Memaparkan catatan dengan label Ary Ginanjar Agustian. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Ary Ginanjar Agustian. Papar semua catatan

Ahad, 19 Januari 2014

Siapa Yang Patut Berubah?

Seringkali kita berpikir keras dan menuntut orang lain berubah, namun seberapa kuat keinginan dan perjuangan kita menuntut diri sendiri berubah.

Betapa seringnya kita mengabaikan perubahan pada diri sendiri, seakan kita sudah menjadi baik dengan berusaha mengharap dan menuntut yang lain berubah

Padahal tugas kita yang terpenting adalah sungguh-sungguh memperbaiki diri, lalu bonusnya semoga kita dijadikan jalan perubahan bagi yang lain

Salam Perubahan..
@AryGinanjar165

Rabu, 4 Disember 2013

Sempitkah hati?

Abu Nawas dan Rumah yang Sempit

Dikisahkan, hiduplah seorang laki-laki yang tinggal di sebuah rumah yang luas. Ia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Suatu saat laki-laki itu merasa rumahnya semakin sempit. Dia mempunyai keinginan untuk memperluas rumahnya tetapi enggan untuk mengeluarkan biaya.

Setelah berpikir, pergilah dia ke rumah Abu Nawas, si cerdik ya...
ng sangat tersohor di negeri Islam saat itu. Laki-laki itu meminta saran dari Abu Nawas bagaimana cara memperluas rumah tanpa harus mengeluarkan biaya.

Mendengar kisahnya, Abu Nawas menyuruh laki-laki itu untuk membeli sepasang ayam jantan dan betina kemudian kandangnya ditaruh di dalam rumah. Laki-laki itu merasa aneh dengan saran Abu Nawas, tetapi tanpa berpikir panjang dia pergi ke pasar dan membelinya.

Hari berikutnya dia datang kembali ke rumah Abu Nawas. Dia mengeluh rumahnya semakin sempit dan bau karena ayam-ayam yang dibelinya. Mendengar cerita itu, Abu Nawas hanya tersenyum dan menyuruh menambahkan sepasang bebek yang kandangnya juga ditaruh di dalam rumah. Dia bertambah heran, tetapi dia tetap menuruti nasehat Abu Nawas.

3 Hari berlalu, datanglah dia ke rumah Abu Nawas lagi. Dia bercerita kalau rumahnya semakin semrawut semenjak kehadiran bebek. Abu Nawas justru menyuruhnya untuk menambahkan kambing yang kandangnya juga ditaruh dalam rumah.

Hari berikutnya laki-laki itu kembali datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu menceritakan bahwa istrinya marah sepanjang hari, anak-anaknya menangis, hewan-hewan berkotek dan mengembik, ditambah hewan-hewan itu juga mengeluarkan bau tak sedap. Abu Nawas hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian Abu Nawas menyuruhnya untuk menjual hewan-hewan itu satu persatu mulai dari ayam yang dijual terlebih dahulu, bebek, kemudian yang terakhir kambing.

Datanglah lelaki itu ke rumah Abu Nawas setelah selesai menjual kambingnya.

Abu Nawas:”Kulihat wajahmu cerah hai fulan, bagaimana kondisi rumahmu saat ini?”

Si lelaki:”Alhamdulillah ya abu, sekarang rasanya rumahku sangat lega karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada. Kini istriku sudah tidak marah-marah lagi, anak-anakku juga sudah tidak rewel.”

Abu Nawas: “(sambil tersenyum) Nah nah, kau lihat kan, sekarang rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah bangunanmu.

Sesungguhnya rumahmu itu cukup luas, hanya hatimu sempit sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu. Mulai sekarang kau harus lebih banyak bersyukur karena masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu. Sekarang pulanglah kamu, dan atur rumah tanggamu, dan banyak-banyaklah bersyukur atas apa yang dirizkikan Tuhan padamu, dan jangan banyak mengeluh.”
 
~ Ary Ginanjar Agustian
 


Ahad, 13 Oktober 2013

Masalah itu Peluang?

Masalah dan Solusi hanyalah perbedaan tipis cara pandang dan fokus.
Kalau anda memandang masalah sebagai masalah dan fokus kepada masalah, hidup anda hanya akan bergerak dari satu masalah ke masalah lain, bahkan bisa menjadikan anda menjadi sumber masalah.
Kalau anda memandang masalah sebagai peluang dan fokus kepada solusinya, hidup anda akan bergerak ke atas menaiki tangga solusi demi solusi, dan anda akan dikenal sebagai pemecah masalah.
Sikap yang kedua inilah yang akan menjadikan anda pribadi sukses ....

Biarkanlah air mata kita mengalir ...

Biarkanlah air mata kita mengalir menyesali segala dosa daripada hanya tertawa tanpa mengira masa dan terlupa karena terlena.

Biarkanlah air mata kita mengalir ketika bertaubat daripada tak sempat karena sudah terlambat sampai saat kita sekarat.

Biarkanlah air mata kita mengalir karena rasa syukur daripada terus terluka karena kita angkuh dan kufur.

Biarkanlah air ma...
ta kita mengalir karena mendapat hidayah dan petunjuk daripada selalu tergoda oleh bujuk rayu setan yang terkutuk.

Biarkanlah air mata kita mengalir karena takut api neraka yg menyala-nyala daripada terus
menjadi Hamba Allah yang durhaka.

Biarkanlah air mata kita mengalir karena rindukan surga daripada terpesona dengan indahnya dunia hingga diri tiada berharga.

Semoga Kita semua dalam naungan kasih sayang ALLAH ‘Azza wa Jalla dan senantiasa di tuntun ke jalan-Nya
 Aamin.

Khamis, 3 Oktober 2013

Berimankah Sedangkan Belum Diuji

Dalam sebuah kisah, Terdapat 2 org nelayan. Yg satu penyembah berhala, dan seorang lagi yg taat kepada ALLAH. Ketika menebar jala, yg menyembah berhala menyebut nama berhalanya, yg taat membaca bismillah. Saat jala diangkat, yang menyembah berhala mendapat banyak ikan, sedangkan yg taat, hampir saja tidak ada ikan untuknya pada hari itu. Malaikat yang melihat keadaan itu bertanya kepada ALLAH.

“Y...
a ALLAH, apakah yang telah berlaku? HambaMu yang menyekutukanMu, KAU berikan dia rezeki yang banyak, sedangkan hambaMu yang menyebut namaMu, KAU tidak memberikan DIA apa-apa”

ALLAH menjawab, “ Yang menyekutukanKu, tempatnya memang sudah pasti NERAKA. Maka apalah guna rezeki yang pasti akan hancur itu jika Kuberikan kepadaNya?
Tetapi HambaKu yang beriman itu, AKU hendak mengganjarkanNya syurga, maka AKU suka Mengujinya untuk melihat kebenaran imanNya”

jangan kecewa bila diuji, tidak berjaya / gagal walau sudah menyusun rencana yang matang. Itu semua adalah sebahagian dari ujian ALLAH.

ALLAH menguji hanya untuk mereka yang dikasihi. Bukankah ALLAH SWT berfirman,
“Apakah kamu mengira KAMI akan membiarkan kamu berkata kami beriman sedangkan kamu belum diuji?…”

Jika gagal terhadap suatu perkara, itu hanyalah untuk perkara itu saja, masih belum gagal dalam kehidupan. Teruskan usaha, selagi nyawa masih ada. InsyaALLAH ALLAH akan memberikan sesuatu yang bermakna.

Rasulullah SAW bersabda: ”Jika engkau melihat Allah sedang memberikan kepada seseorang , sesuatu dari dunia yang ia sukai, sedangkan ia masih saja tenggelam dalam kemaksiatannya, maka ketahuilah itulah yang dinamakan Istidraj

(Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah SWT: Al Qur’an surah Al An’aam (6) ayat 44.) (HR. Ahmad dan Thabrani, dalam kitab As Syu’ab)

Masihkan kita kufur terhadap Nikmat Allah??? Demi Allah, nikmat yg paling besar Adalah nikmat iman , nikmat islam, dan nikmat ketaqwaan terhadap Allah...
 
~Ary Ginanjar

Khamis, 26 September 2013

4 Penyakit Memikirkan Dunia

"Barangsiapa yang bangun di pagi hari & hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak-hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit:

1. kebingungan yang tiada putus-putusnya,
2. kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya,
3. kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi,
4. khayalan yang tidak berujung."

(HR. Imam Thabrani)

Ahad, 22 September 2013

Siapa Dapat Curi Otak Kita?

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang kita Miliki; otak dan pikiran kita jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan. ...
 
~Ary Ginanjar Agustian